JALAN DI AKHIR ZAMAN...
Jalan di akhir zaman
adalah jalan penuh cabaran.
Cabarannya sungguh pelik.
Hingga engkau justru tersilap,
bukan saat engkau jauh dari Allah.
Engkau tersilap jalan,
justru saat engkau “merasa” begitu dekat pada-Nya.
Jalan di akhir zaman
adalah jalan penuh kesilauan.
Bukan pada dunia yang memang gemerlap.
Tapi justru:
pada hal-hal yang “diada-adakan”
oleh para manusia akhir zaman,
yang lalu pada “yang mengada-ada” itu
disematkan label “Sunnah”,
diperindah dengan kata “Nabawi”,
atau dipoles dengan kata “Akhir Zaman” itu sendiri.
Perkara “mengada-ada” itu
justru hadir (atau dihadirkan) padamu
untuk menyilaukan pandangmu
untuk melihat hakikat yang seharusnya kau tahu.
Engkau tertakjubkan oleh cap “akhir zaman” itu,
hingga akal-hatimu justru menjauh
dari pandu jalan kenabian yang dititahkan
oleh Nabi Akhir Zaman, Rasulullah
(baginya salam dan shalawat sepenuh jiwa)…
Di akhir zaman nan pelik ini,
mengapa justru akal-hatimu begitu rapuh?
Hatimu tak ubahnya sekeping bulu
yang mudah terhembus oleh angin isu-isu baru
yang “diperindah” oleh cap “Akhir Zaman”?
Mengapa jiwamu justru mudah melupakan:
prinsip-prinsip teguh Kaum Salaf nan Shalih,
yang pernah kau kaji dan kini kau ajarkan?
***
Saat di perangkat gawaimu,
hilir-mudik orang heboh mengulas Imam Mahdi,
hatimu gusar tak terkira.
“Imam Mahdi sudah dekat!
Imam Mahdi sudah hampir tiba!
Kita harus bersiap penuh siaga!”
Hei, Kawan…
Apakah engkau lupa:
sejak pertama Sang Rasul tercinta tiba di Mayapada,
kehadiran Imam Mahdi memang pun telah dekat!
Bahkan Hari Kiamat yang lebih jauh dari Imam Mahdi pun
bukankah telah dekat belaka sejak kerasulan itu?
Toh, Sang Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam)
tak menyuruhkan amaran khusus untuk itu,
karena siapapun jiwa beriman yang teguh dalam ibadah,
menggenggam Sunnah nan suci meski membakar panas,
meniti jejak-jejak ilmu warisan para nabi yang mulia,
andai ia bertemu zaman dengan Imam Mahdi,
niscaya Allah nan Maha Perkasa akan menuntun jiwanya ke sana:
membaiat Imam Mahdi!
(Sepagi ini,
aku terkilas mendengar seorang “ustadz” bertutur:
“Dajjal akan menciptakan piring terbang UFO
dengan kecepatan jelajah 5 km/detik!”
Hmm…
Jika jiwamu hampa dari ilmu,
Tutur-kisah beralur konspiratif seperti ini
memang sungguh seru,
bagai membaca novel-novel karya Dan Brown!)
***
Tetiba saja,
dalam kegalauan manusia memikul penyakitnya:
dinding-dinding gawaimu kembali riuh-rendah
oleh ragam terapi medis yang ternisbatkan pada:
“Sunnah Nabi” dan “Akhir Zaman”!
Konon banyak yang tersembuhkan
oleh “tips-tips” yang dinisbatkan pada Sang Rasul mulia.
Lalu tetiba saja,
hidupmu menjadi sempit begitu rupa, Kawan…
Setelah Allah Sang Maha Pemurah menghalalkan
sebegitu luas karunia dan rezkiNya untukmu:
kini engkau hanya makan ini dan hanya minum itu!
Tidak…tidak…
Bukan itu maksudku, Kawan!
Dunia medis memang berbasis eksperimen.
Sehingga apapun yang berdasar eksperimen
menghantar khasiat untuk kesembuhanmu,
maka ia berhak kau pilih untuk pengobatanmu, Kawan…
Tapi…
Jangan pula kau nisbatkan ia kepada Sang Nabi!
Jangan pula kau sematkan “Akhir Zaman” padanya!
Kecuali jika engkau punya sebaris dalil nan tegas,
yang tak mungkin kau takwil-tafsirkan selain itu…
***
Jalan di akhir zaman
memang sungguh pelik, Kawan.
Akan banyak “keajaiban-keajaiban”.
Engkau akan dibuat takjub oleh banyak isu.
Itulah payahnya zaman ini:
Banyak hal yang tak perlu kau tahu,
engkau terpaksa mengetahuinya.
Hingga yang seharusnya kau tahu,
terseret jauh pergi meninggalkanmu!
Maka itulah sebabnya:
dengan sepenuh hati, engkau dihantar untuk
merenung-tadabbur ayat-ayat al-Kahfi,
agar engkau tak mudah takjub
pada “keajaiban-keajaiban” itu,
karena meski tidurnya para pemuda al-Kahfi
sepanjang 309 tahun sungguh “menakjubkan”,
tapi:
“Apakah engkau (Muhammad) mengira bahwa
(kisah) para penghuni gua dan Raqim itu termasuk
tanda-tanda (kekuasaan) Kami yang menakjubkan?”
(Terjemah Surah al-Kahfi, ayat 9)…
Jalan akhir zaman
sungguh bukan jalan biasa.
Maka siapkan jiwa menitinya
seperti dahulu para Sahabat Nabi mulia menitinya,
seperti dahulu para tabi’in mulia menapakinya,
seperti dahulu para Salaf agung menjejakinya:
dengan menghirup jejak ibadah tiada henti,
dengan menalar ilmu sepenuh hati,
dengan menapakkan kaki pada Manhaj yang kukuh:
Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.
Akhukum,
Muhammad Ihsan Zainuddin
================
Komentar
Posting Komentar