Sunnah adalah Wahyu
.
Bismillahirrahmanirrahim
.
As Sunnah An Nabawiyyah atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diwahyukan dan benar dibenarkan oleh Allah melalui perkataan, perbuatan, persetujuan, hukum dan ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Sebab, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan suatu perkataan, melakukan suatu perbuatan, menetapkan persetujuan, menetapkan perintah dan larangan, menetapkan perkara halal dan haram, menyampaikan perkara aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, hukum, perkara azab kubur, amal yang mendekatkan kepada surga dan menjauhi dari neraka, pembawa kabar gembira janji pahala dan keindahan kehidupan di surga, pemberi peringatan bahayanya dosa dan kengerian kehidupan di neraka, sifat-sifat orang yang berbahagia dan sifat-sifat orang yang celaka lagi sengsara, perkara fitnah akhir zaman, peristiwa hari akhir, perihal surga dan neraka, dan yang lainnya yang tercakup semuanya dalam Sunnah beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- berdasarkan hawa nafsu beliau –shallallahu ‘aiahi wasallam- kecuali –seluruhnya- atas bimbingan wahyu yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan yang benar dibenarkan (Ash Shadiqul Masduq) sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
“Katakanlah (Muhammad), “Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.”
.
- QS. Al An’am [6] : 50
.
Tafsir Muyassar,
.
“Aku hanyalah seorang utusan yang diutus dari sisi Allah. Aku sekedar mengikuti apa yang diwahyukan Allah kepadaku dan kemudian aku sampaikan wahyu-Nya itu kepada umat manusia.”
.
- Tafsir Muyassar, I/397
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) berkata,
.
“(Maksudnya) Ini adalah tujuanku (diutusnya aku), ujung dan akhir perkaraku, aku hanya sekedar mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Aku mengamalkan untuk diriku sendiri dan mengajak manusia kepadanya.”
.
- Taisir Al Karim Ar Rahman, II/458
.
Juga firman-Nya,
.
“Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.”
.
- QS. Al Ahqaf [46] : 9
.
Tafsir Muyassar,
.
“Aku tidak mengikuti dalam apa yang aku perintahkan kepada kalian dan apa yang aku lakukan kecuali wahyu (dari) Allah yang Dia wahyukan kepadaku. Aku tidak lain kecuali pemberi peringatan dengan peringatan yang nyata.”
.
- Tafsir Muyassar, II/631
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) berkata,
.
“Artinya, aku hanya manusia biasa, aku tidak berkuasa sama sekali terhadap urusanku, hanya Allah Ta’ala yang mengaturku dan kalian, Dia-lah yang memutuskan perkaraku dan perkara kalian, aku sama sekali tidak membawa risalah dari diriku. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, “Dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan”
.
- Taisir Al Karim Ar Rahman, VI/502-503
.
Dan juga firman-Nya,
.
“Demi bintang ketika terbenam, kawan kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) menyimpang, dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”
.
- QS. An Najm [53] : 1-4
.
Tafsir Muyassar,
.
“Allah bersumpah dengan bintang-bintang bila ia terbenam (bahwa) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyimpang dari jalan hidayah dan kebenaran, tidak keluar dari jalan lurus, sebaliknya dia berada di puncak istiqamah, keseimbangan dan kelurusan, ucapannya tidak keluar dari hawa nafsu. Al Qur’an dan As Sunnah tidak lain kecuali wahyu dari Allah kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”
.
- Tafsir Muyassar, II/705
.
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) berkata,
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengucapkan sesuatu yang bersumber dari hawa nafsunya. Beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- hanya mengatakan apa yang telah diperintahkan (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) kepada beliau dan menyampaikannya kepada umat manusia secara sempurna tanpa melakukan penambahan dan pengurangan.”
.
- Tafsir min Ibnu Katsir, VII/567
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) berkata,
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengikuti wahyu yang disampaikan padanya berupa hidayah, takwa dalam dirinya dan pada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa As Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk Rasul-nya, sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya : “Dan Allah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah” (QS. An Nisa [4] : 113)” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terjaga dari kesalahan terhadap apa yang disampaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dari syariat, sebab perkataan beliau tidak bersumber dari hawa nafsu, namun bersumber dari wahyu.”
.
- Taisir Al Karim Ar Rahman, VII/49
.
Begitu pula yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa setiap yang dikatakan oleh beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah kebenaran.
.
Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad Ad Duri Al Baghdadi : telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Hasan : telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak dari Usamah bin Zaid dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Para Sahabat pernah bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau dengan kami ?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,
.
“Sungguh, tidaklah aku mengatakan sesuatu melainkan kebenaran.”
.
- HR. Tirmidzi no. 1913 | no. 1990 dan Ahmad no. 8366. Ash Shahihah no. 1726
.
Telah menceritakan kepada kami Musaddad dan Abu Bakr bin Abu Syaibah mereka berkata : telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah bin Al Akhnas dari Al Walid bin Abdullah bin Abu Mughits dari Yusuf bin Mahik dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita : Aku menulis semua ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kuhafalkan, tetapi salah seorang dari kaum Quraisy melarangku. Hingga mereka berseru : “Apakah kamu akan menulis semuanya ? Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga manusia biasa yang berbicara dalam kondisi marah dan senang ?” Setelah mendengar pernyataan mereka, aku menghentikan (kebiasaanku) menulis ucapan beliau, lalu hal itu aku laporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau meletakkan tangan di kedua bibirnya sambil berkata,
.
“Tulislah ! Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidaklah yang keluar dari dua bibirku ini melainkan kebenaran.”
.
- HR. Abu Dawud no. 3161 | no. 3646, Darimi no. 484 | no. 501 dan Ahmad no. 6221, 6724 dan 6511. Ash Shahihah no. 1532
.
Dan tidaklah kebenaran itu datang kecuali dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sang Pencipta, Rabb Al Alamin, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
“Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.”
.
- QS. Al Kahfi [18] : 29
.
Tafsir Muyassar,
.
“Dan katakanlah kepada orang-orang yang lalai itu, “Risalah yang aku bawa kepada kalian adalah kebenaran dari Rabb kalian.”
.
- Tafsir Muyassar, I/908
.
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) berkata,
.
“Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, katakanlah, wahai Muhammad kepada umat manusia, apa yang aku bawa kepada kalian dari Rabb kalian adalah kebenaran yang tidak terdapat keraguan di dalamnya.”
.
- Tafsir min Ibnu Katsir, V/254
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) berkata,
.
“Maksudnya, “Katakanlah” wahai Muhammad kepada umat manusia, bahwa “Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu.” Maksudnya, sungguh telah jelas antara petunjuk dengan kebatilan, kebenaran dengan kesesatan, sifat-sifat orang yang berbahagia dengan sifat-sifat orang yang sengsara. Demikian itu berdasarkan hasil penjelasan Allah melalui lisan Rasul-Nya.”
.
- Taisir Al Karim Ar Rahman, IV/337
.
Juga, berpulang kepada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan amanat-Nya, yakni risalah-Nya secara sempurna, seluruhnya, lengkap, jelas, rinci dan terang benderang dalam urusan agama dan dunia, baik itu perkara aqidah, ushul, furu, ibadah, muamalah dan hukum, yang dibutuhkan oleh umat manusia untuk kebaikan urusan agama dan dunia mereka atau perkara azab kubur, amal yang mendekatkan kepada surga dan menjauhi dari neraka, pembawa kabar gembira janji pahala dan keindahan kehidupan di surga, pemberi peringatan bahayanya dosa dan kengerian kehidupan di neraka, sifat-sifat orang yang berbahagia dan sifat-sifat orang yang celaka lagi sengsara, perkara fitnah akhir zaman, peristiwa hari akhir, perihal surga dan neraka, dan yang lainnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
“Wahai Rasul ! Sampaikanlah apa yang diturunkan Rabbmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya”
.
- QS. Al Ma’idah [5] : 67
.
Tafsir Muyassar,
.
“Wahai Rasul, sampaikanlah wahyu Allah yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika kamu kurang dalam menyampaikan dengan menyembunyikan sesuatu darinya, maka kamu berarti belum menyampaikan risalah Rabbmu.”
.
- Tafsir Muyassar, I/351
.
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) berkata,
.
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman seraya ber khitab kepada hamba dan Rasul-Nya -yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan menyebut kedudukannya sebagai seorang Rasul. Allah memerintahkan kepadanya untuk menyampaikan semua risalah yang diutuskan oleh Allah melaluinya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjalankan perintah tersebut serta menunaikannya dengan sempurna.”
.
- Tafsir min Ibnu Katsir, III/122
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata,
.
“Ini adalah perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan perintah yang paling mulia dan paling agung yaitu menyampaikan apa yang Allah turunkan kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah seluruh perkara-perkara yang diterima oleh umat ini dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-, meliputi aqidah, amalan-amalan, perkataan-perkataan, hukum-hukum syar’i dan tuntunan ilahiyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan secara sempurna, memberikan peringatan, menyampaikan berita gembira dan memberi kemudahan. Beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- menyampaikan dengan ucapan, perbuatan, (mengirim) surat dan utusan-utusannya. Tidak kebaikan kecuali beliau menunjukkan umatnya kepadanya dan tidak ada keburukan kecuali beliau memperingatkan umatnya darinya.”
.
- Taisir Al Karim Ar Rahman, II/368
.
Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sang Pencipta, Rabb Al Alamin, tidak hanya menurunkan Al Qur’an saja dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh umat manusia, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menurunkan Al Hikmah yang beriringan dengan diturunkannya Al Qur’an oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
.
“Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Muhammad), tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.”
.
- QS. An Nisa [4] : 113
.
Juga firman-Nya,
.
“Ingatlah nikmat Allah kepada kamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu, yaitu Kitab (Al Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
.
- QS. Al Baqarah [2] : 231
.
Juga firman-Nya,
.
“Ya Rabb kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
.
- QS. Al Baqarah [2] : 129
.
Juga firman-Nya,
.
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, mengajarkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”
.
- QS. Al Baqarah [2] : 151
.
Juga firman-Nya,
.
“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
.
- QS. Ali Imran [3] : 164
.
Dan juga firman-Nya,
.
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al Qur’an) dan Hikmah (Sunnah) meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
.
- QS. Al Jumuah [62] : 2
.
Dan yang dimaksud Al Hikmah di dalam firman-firman-Nya yang mulia di atas yang disebutkan secara beriringan dengan diturunkannya Al Qur’an oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah As Sunnah.
.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Husain Al Farisi : telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Abdurrahman Jashshash : telah menceritakan kepada kami Hasan bin Muhammad Ash Shabbah : telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad, dari Abu Bakar Al Hudzali : dari Hasan rahimahullah mengenai firman Allah, “Dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (QS. Al Baqarah [2] : 129”. Beliau berkata,
.
“Yang dimaksud dengan Kitab adalah Al-Qur’an, dan yang dimaksud dengan Hikmah adalah Sunnah.”
.
- Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah no. I/350 no. 70
.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim Ar Razi : telah memberitakan kepada kami Isma’il bin Muhammad : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidullah : telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad : telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Qatadah rahimahullah (tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala), “Dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (QS. Al Baqarah [2] : 129”. Beliau berkata,
.
“Yang dimaksud dengan Hikmah adalah Sunnah.”
.
- Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah no. I/351 no. 71
.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) berkata,
.
“Pertama-tama, Allah menyebut Al Kitab, yaitu Al Qur’an, kemudian menyebut Al Hikmah. Saya mendengar sebagian ulama ahli Al Qur’an yang aku ridha terhadap keilmuannya mengabarkan kepadaku, dia berkata, “Al Hikmah bermakna Sunnah (ketetapan) Rasulullah. Karena kata Al Qur’an disebutkan Allah beriringan dengan kata Al Hikmah, dan Allah telah menyebutkan karunia-Nya kepada mahluk-Nya, yaitu memberikan pengajaran kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (Sunnah). Berpijak dari ayat ini, maka seseorang tidak boleh mengatakan bahwa yang dimaksud Al Hikmah disini adalah kecuali Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
.
- Ar Risalah no. 252-254
.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah (wafat 751 H) berkata,
.
“Al Hikmah yang disebutkan beserta Al Kitab (Al Qur’an) adalah As Sunnah.”
.
- Madarij As Salikin, hlm. 264
.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan bahwa beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- diutus dengan Al Qur’an dan yang semisalnya bersama Al Qur’an.
.
Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Najdah berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Amru bin Katsir bin Dinar : dari Hariz bin Utsman : dari 'Abdurrahman bin Abu Auf dari Al Miqdam bin Ma'di Karib Al Kindi radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda
.
"Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al Qur'an dan yang semisal bersamanya (As Sunnah).”
.
- HR. Abu Dawud no. 3988 | no. 4604 dan Ahmad no. 16546
.
Yang semisal bersama Al Qur’an ini adalah As Sunnah, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan Al Qur’an dan Al Hikmah yang disebutkan secara beriringan dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Al Hikmah adalah As Sunnah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Maka telah jelaslah bahwa yang semisal Al Qur’an dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini adalah As Sunnah. Tidak ada selain dari itu dan tidak boleh menetapkan atau mengatakan selain dari itu.
.
Sehingga dari semua ini, telah jelas secara terang benderang yang tidak ada keraguan dan kerancuan di dalamnya, bahwasannya As Sunnah merupakan wahyu yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan yang benar dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak dapat seorang pun di bumi Allah ini menolaknya.
.
Yang karena kedudukan Sunnah An Nabawiyyah atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka berhati-hatilah dalam menafsirkannya sebagaimana bersikap hati-hati dalam menafsirkan Al Qur’an.
.
Telah mengabarkan kepada kami Musa bin Khalid : telah menceritakan kepada kami Mu'tamir dari ayahnya, ia berkata,
.
"Hendaknya seseorang bersikap hati-hati dalam menafsirkan hadits Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana ia bersikap hati-hati dalam menafsirkan Al Qur`an.”
.
- HR. Darimi no. 431 | no. 444. Isnadnya Shahih
.
Disusun oleh : Ustadz Atha bin Yussuf Hafizhahullah

Komentar
Posting Komentar