Mengaku Bermazhab Syafi'i ?

BUAT YANG MENGAKU-AKU BERMAZHAB SYAFI’I

Setelah membawakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bertentangan dengan pendapat Imam Asy Syafi’i rahimahullah, Ibnu Hibban rahimahullah berkata,
.
“Beliau (Imam Asy Syafi’i rahimahullah) biasa menarik pendapat-pendapatnya yang terdapat dalam kitab-kitabnya meskipun pendapat tersebut sudah terkenal (masyhur).
.
Hal ini dikarenakan aku mendengar Ibnu Khudzaimah berkata : aku mendengar Al Muzani berkata : Aku mendengar Syafi'i berkata,
.
“Apabila kalian mendapati hadits shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ambillah hadits tersebut dan tinggalkan pendapatku.”
.
Asy Syafi'i adalah orang yang sangat peduli dengan masalah Sunnah (hadits), mengumpulkannya dan memahaminya dengan baik. Dia membantah orang yang menentang dan menyelisihinya.
.
Dia (Asy Syafi'i) mengatakan bahwa bila suatu khabar shahih (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dan bertentangan dengan perkataannya, maka dia akan mengatakannya lalu menarik perkataannya yang terdapat dalam kitab-kitabnya.
.
Aku mendengar Musa bin Muhammad Ad Dailami berkata di Anthakiyah (Antakya) : Aku mendengar Ar Rabi bin Sulaiman berkata : Aku mendengar Asy Syafi'i berkata,
.
“Aku ingin sekali orang-orang mempelajari kitab-kitab ini dan tidak menisbatkannya kepadaku.”
.
- Shahih Ibnu Hibban no. 2125
.
FAEDAH
.
(1) Imam Asy Syafi’i rahimahullah sendiri menarik dan meninggalkan pendapatnya, meskipun pendapatnya sudah terkenal jika pendapatnya bertentangan, menyelisihi dan menyalahi Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
(2) Imam Asy Syafi’i rahimahullah memerintahkan untuk meninggalkan pendapatnya jika bertentangan, menyelisihi dan menyalahi Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berhukum kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
(3) Imam Asy Syafi’i rahimahullah menganjurkan untuk mempelajari kitab-kitab beliau –rahimahullah- AKAN TETAPI MELARANG TAQLID kepada Mazhab (pandangan) Imam Asy Syafi’i rahimahullah.
.
Setelah yang diuraikan,
.
Maka, bagaimana menurut pandangan kalian kepada orang-orang yang mengaku-aku Mazhab Syafi’iyah dan Taqlid kepada Mazhab Syafi’iyah akan tetapi menyelisihi dan menyalahi perkataan Imam Asy Syafi’i rahimahullah dengan berlomba menyebarkan proyek “Bid’ah Hasanah” berdasarkan pendapat Imam Asy Syafi’i rahimahullah yang membagi Bid’ah menjadi dua sedang hal itu menyelisihi dan menyalahi Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan juga yang pada kenyataannya di dalam sanad rawi riwayat Imam Asy Syafi’i rahimahullah yang membagi Bid’ah menjadi dua terdapat rawi yang majhul (tidak dikenal / tidak diketahui ) ?
.
Maka akan sangat jelas terlihat bahwa pengakuan mereka adalah dusta, dan yang mereka ikuti hanyalah hawa nafsu setan yang terus menerus ingin merusak Islam dari dalam atas nama Imam Asy Syafi’i rahimahullah. Laa Hawla Wala Quwwata Illa Billah.
.
Padahal Imam Asy Syafi’i rahimahullah sangat melarang Bid’ah dalam Syari’at, beliu, Imam Asy Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) berkata,
.
“Saya wasiatkan dengan takwa kepada Allah Ta’ala, dan berpegang teguh dengan Sunnah dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya, serta MENINGGALKAN DAN MENJAUHI KEBIDAHAN dan hawa nafsu.”
.
- Wasiyatul Imam Asy Syafi’i, hlm. 47-48, Al Hakari, I’tiqad Imam Asy Syafi’i, hlm. 16 dan As Suyuthi, Al Amru bil Ittiba, hlm. 313
.
Padahal, Imam Asy Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) sendiri pun mengatakan jika seseorang mengutamakan, mendahulukan dan mengikuti perkataan seseorang yang menyelisihi dan menyalahi Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas dan terang benderang, maka ia telah berbuat Syirik Akbar yang membatalkan keislamannya.
.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) berkata,
.
“Barangsiapa yang bertaqlid kepada orang-orang tertentu dalam mengharamkan atau menghalalkan sesuatu, sedangkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertentangan dengannya, akan tetapi dia tetap bertaqlid kepada orang tersebut dan tidak mau mengamalkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia telah menjadikan orang yang dia taqlid kepadanya itu sebagai ilah (tuhan) tandingan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (berbuat Syirik) yang menghalalkan untuknya apa-apa yang diharamkan Allah, dan sebaliknya mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah.”
.
- Al Ma’shumi, Hadyatus Sulthan Ila Muslimi Biladil Yaban hlm. 69 Tahqiq : Syaikh Shalih bin Ied Al Hilali. Lihat juga Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim di dalam Muqqadimah Shahih Fiqh Sunnah, I/45
.
Catatan kecil : SEHARUSNYA perkataan Imam Asy Syafi’i rahimahullah ini menjadi pelajaran dan pecutan yang berharga bagi para tokoh agama, kyai, ustadz, yang mengaku atau yang diaku-aku habaib, yang mengaku atau yang diaku wali, gus, ajengan ataupun yang lainnya yang mengaku-aku bermazhab Syafi’iyah yang telah mengetahui kebenaran khabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti “setiap Bid’ah dalam syari’at adalah sesat” dan “jangan berbuat Bid’ah dalam syari’at” tetapi enggan untuk mengikutinya dan membenarkannya akibat fanatik buta kepada mazhabnya, atau taqlid dan fanatik buta kepada syaikhnya dan kelompoknya, atau taqlid kepada pendapat Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang mengatakan adanya bid’ah hasanah/mahmudah yang Imam Syafi’i rahimahullah sendiri pun tidak ridha kepada seseorang yang taqlid kepada pendapat beliau -rahimahullah- ketika telah shahih suatu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyelisihi dan menyalahi pendapat Imam Asy Syafi’i rahimahullah.
.
Sumber :
Ustadz Atha Bin Yusuf  Hafizahullah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalil Lengkap Haramnya Mengucapkan dan Merayakan Hari Natal dan Tahun Baru

Adab Khutbah Jumat Sesuai Sunnah: Khatib Persingkat Khutbah dan Perpanjang Shalat